VALORANT Champions 2026 di Shanghai bakal menerapkan aturan perilaku dalam game yang cukup menarik perhatian komunitas. Riot Games mengingatkan seluruh tim peserta mengenai pedoman conduct selama pertandingan, termasuk larangan menembak tubuh pemain yang sudah tereliminasi, teabagging, serta tindakan in-game lain yang dianggap tidak pantas. Aturan tersebut tercantum dalam rulebook turnamen. Pelanggaran yang dilakukan pemain dapat berujung pada tindakan disipliner dari penyelenggara.
Bagi komunitas VALORANT, aturan ini cukup menarik karena teabagging maupun menembak tubuh lawan yang sudah mati selama ini kerap dianggap sebagai bagian dari trash talk, psywar, atau sekadar banter antarpemain. Namun, Riot Games memilih pendekatan yang lebih ketat untuk turnamen tingkat tertinggi seperti Champions.
Teabagging dan Menembak Mayat Masuk Aturan Conduct
Dalam konteks pertandingan esports, aksi seperti menembak tubuh lawan yang sudah tereliminasi atau melakukan teabagging biasanya tidak memengaruhi hasil pertandingan secara langsung. Sebagian pemain menggunakannya sebagai bentuk selebrasi atau cara untuk mengganggu konsentrasi lawan. Aksi tersebut juga terkadang menjadi bagian dari persaingan dan hiburan dalam pertandingan kompetitif.
Namun, rulebook VALORANT Champions 2026 memberikan batas yang lebih jelas. Pemain dilarang melakukan tindakan tersebut selama pertandingan dan pelanggaran dapat dikenai sanksi disipliner. Artinya, pemain yang terbiasa melakukan teabagging setelah memenangkan duel harus mulai menghilangkan kebiasaan tersebut ketika tampil di panggung Champions. Aturan ini juga menjadi pengingat bahwa aspek perilaku pemain menjadi bagian dari regulasi kompetitif, bukan hanya performa mekanik, strategi, dan hasil pertandingan.

Bukan Pertama Kali Riot Terapkan Aturan Ketat
Meski kembali ramai dibicarakan menjelang Champions Shanghai, larangan terhadap tindakan semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam ekosistem VALORANT Champions Tour (VCT). VCT China dikenal menerapkan aturan conduct yang cukup ketat untuk menjaga disiplin selama pertandingan. Tujuannya adalah memastikan perhatian tetap tertuju pada kompetisi tanpa tindakan in-game yang dapat dianggap melewati batas.
Salah satu contoh terjadi pada 2021 ketika pemain G2 Esports melakukan teabagging dan menembak tubuh pemain Team Defuse dalam pertandingan VCT EMEA. Saat itu, pemain disebut sudah mendapat peringatan dari host di game lobby untuk tidak melakukan tindakan tersebut.
Meski insiden tersebut tidak berujung pada konsekuensi besar, kasus itu menunjukkan bahwa persoalan perilaku seperti ini sudah pernah menjadi perhatian dalam kompetisi VCT. Karena itu, aturan yang diterapkan pada Champions Shanghai bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari pendekatan Riot Games terhadap conduct pemain di turnamen resmi.
Mengapa Riot Games Memperketat Aturan?
Salah satu alasan yang menjadi perhatian adalah potensi reaksi berlebihan dari komunitas setelah aksi pemain di dalam pertandingan. Trash talk atau psywar memang menjadi bagian dari kultur esports. Namun, respons dari penonton tidak selalu berhenti di dalam game. Aksi tertentu dapat memicu kritik besar di media sosial, terutama ketika melibatkan pertandingan dengan basis penggemar yang sangat besar.
Salah satu contoh yang disorot adalah Efe “s0pp” Tur dari FUT Esports ketika menghadapi EDward Gaming di Masters London. Aksi trash talk dan perilakunya dalam game mendapat kritik keras dari sebagian penggemar VCT China.

Meski tindakan tersebut disebut tidak dimaksudkan untuk menyerang secara pribadi, reaksi terhadap s0pp kemudian berkembang hingga muncul ancaman pembunuhan di media sosial. Kasus tersebut memperlihatkan bahwa tindakan kecil di dalam pertandingan bisa memiliki dampak yang jauh lebih besar ketika disaksikan oleh audiens global. Aturan conduct yang lebih ketat dapat menjadi salah satu cara penyelenggara mengurangi potensi kontroversi sekaligus membantu melindungi pemain dari eskalasi reaksi di luar pertandingan.
Bukan Hanya s0pp yang Pernah Jadi Sorotan
Beberapa pemain VALORANT lainnya juga pernah mendapat respons negatif dari komunitas akibat perilaku atau aksi mereka selama pertandingan. Maximilian “Demon1” Mazanov, misalnya, pernah menjadi sorotan ketika membela Evil Geniuses dalam perjalanan mereka di Masters Tokyo dan Champions Los Angeles 2023. Begitu pula dengan Michael “dapr” Gulino dari Sentinels yang pernah menghadapi kritik komunitas selama periode kejayaan tim tersebut di VCT 2021.
Berbagai kasus tersebut menunjukkan bagaimana tindakan pemain dapat menjadi bagian dari narasi pertandingan, bahkan setelah pertandingan selesai. Dalam konteks tersebut, larangan teabagging dan menembak tubuh pemain yang telah tereliminasi dapat dipandang sebagai upaya untuk menetapkan batas perilaku yang lebih jelas bagi peserta.
Champions Shanghai 2026 Segera Dimulai
VALORANT Champions 2026 dijadwalkan berlangsung di Shanghai, China, mulai 24 September. Pertandingan pembuka Grup C akan mempertemukan Team Liquid vs Paper Rex serta TYLOO vs G2 Esports. Turnamen puncak VCT tersebut kemudian akan berlanjut hingga partai final pada 18 Oktober di Mercedes-Benz Arena.
Dengan statusnya sebagai turnamen terbesar dalam kalender kompetitif VALORANT, setiap detail pertandingan tentu akan menjadi perhatian komunitas. Bukan hanya soal strategi dan performa tim, tetapi juga bagaimana para pemain mengikuti aturan yang ditetapkan Riot Games.
Bagi para pemain yang tampil di Shanghai, selebrasi setelah memenangkan duel kini memiliki batas yang lebih jelas. Teabagging dan menembak tubuh lawan yang sudah tereliminasi bukan lagi sekadar soal banter, melainkan tindakan yang berpotensi membawa konsekuensi disipliner.
Pada akhirnya, Champions 2026 tidak hanya menjadi panggung untuk menentukan tim terbaik VALORANT dunia, tetapi juga menjadi ujian bagi para pemain untuk menjaga profesionalisme sepanjang kompetisi.

Ikuti terus berita terbaru seputar Valorant dan skena esports lainnya di Ligagame Esports! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.