Fortnite Dorong Kampanye Kesetaraan Dalam Esports dengan Milk Cup Turnamen Khusus Perempuan

by Visahat

Dalam dunia esports, perempuan dan anak perempuan seringkali menghadapi berbagai hambatan dan tantangan untuk mengakses peluang di level tertinggi dalam permainan kompetitif.  Dari sejumlah pengamatan dan investigasi ditemukan bahwa di lingkungan game yang kompetitif, stereotip, ruang online yang tidak bersahabat, dan toksisitas secara keseluruhan, masing-masing menyebabkan dampak yang merugikan bagi pemain perempuan dan anak perempuan seperti diskriminasi akses. Akibatnya, jumlah perempuan dan anak perempuan hanya 5% dari seluruh pemain game profesional, dan hanya 8-10% dari pesaing universitas perguruan tinggi yang berbasis di AS.

Ketimpangan Dalam Esports
Dalam esports, permusuhan terutama berasal dari lawan dan penonton laki-laki yang sering kali melancarkan aksi taunting hingga toxic seperti menghina, mengumpat, dan meremehkan sesama gamer, terlepas dari identitas gendernya. Berdasarkan penelitian sebelumnya, laki-laki secara signifikan lebih rentan – sebesar 20% – untuk terlibat dalam tindakan permusuhan tersebut.

BACA JUGA: Indonesia Mendunia! Vivian dari Bigetron Era Tampil di The Sphere, Las Vegas Sambut Piala Dunia Esports 2024

Menanggapi permusuhan ini, para gamer perempuan sering kali menahan diri untuk tidak menggunakan nama asli mereka atau berpartisipasi dalam fitur obrolan suara agar tidak teridentifikasi sebagai perempuan. Perilaku-perilaku ini melanggengkan lingkungan yang tidak ramah bagi perempuan dan anak perempuan serta mempunyai dampak jangka panjang yang lebih merusak.

Konsekuensi negatif dari berkurangnya panutan perempuan dalam esports menciptakan fenomena siklus. Sangat menantang untuk membayangkan akan seperti apa di masa mendatang. Partisipasi esports juga menawarkan manfaat tambahan. Penelitian menunjukkan bahwa partisipasi dikaitkan dengan peningkatan harga diri, kemahiran teknologi, tingkat kelulusan, penalaran visual-spasial, dan interaksi sosial yang lebih bermakna. Selain itu, partisipasi kompetitif esports sangat selaras dengan pendidikan dan karier sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Perempuan dan anak perempuan akan terus kehilangan manfaat positif ini jika mereka tidak dilibatkan.

Turnamen Fortnite Milk Cup

Namun di tengah tantangan-tantangan ini dan rendahnya proporsi pemain esports perempuan dan perempuan, turnamen khusus perempuan mungkin bisa menjadi solusi untuk masa depan. Dengan memberikan ruang bagi perempuan dan anak perempuan untuk bersaing, bebas dari tantangan yang disebabkan oleh bias yang berkepanjangan.

Turnamen khusus untuk perempuan ini akan menjadi ajang talenta luar biasa dari pemain wanita dan dapat membantu mengatasi rintangan. Turnamen Fortnite khusus wanita yang baru, The Milk Cup, berupaya berkontribusi pada tren ini dan akan memberikan kumpulan hadiah terbesar untuk turnamen khusus wanita hingga saat ini. Milk Cup, yang dipicu oleh Milk dan bekerja sama dengan @ThePeachCobbler, WOTE, dan tim produksi wanita Raidiant, akan menjadi tuan rumah bagi para pemain yang diidentifikasi sebagai wanita yang akan bersaing untuk mendapatkan total hadiah sebesar $250,000.

Ikuti terus berita game dan esports terbaru di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.

Baca selanjutnya:

Ajang Gaming Global, WCG Umumkan Jakarta Jadi Tuan Rumah Turnamen Esports Internasional Tahun 2024

LIGAGAME ESPORTS
The First Full-Service Esports Agency in Indonesia

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.


© 2020 PT Lintas Portal Indonesia. All rights reserved.

Follow Ligagame Esports

Update terus dengan berita esports dan gaming terbaru!