Nama Martin “Rekkles” Larsson kembali menggema di komunitas League of Legends Eropa. Namun kali ini, bukan karena performa mekanik brilian atau pencapaian baru, melainkan karena pengakuan emosional sang legenda terkait masa depannya di scene profesional.

Dalam wawancara di siaran resmi LEC Versus akhir pekan lalu, Rekkles secara terbuka mengungkap bahwa kiprahnya bersama Los Ratones kemungkinan besar bisa menjadi proyek terakhirnya di LEC, bahkan di kancah kompetitif League of Legends secara keseluruhan.
“Saya pikir ini mungkin hal terakhir yang saya lakukan di sini… Saya memberikan segalanya setiap hari karena ini bisa jadi yang terakhir,” ujar Rekkles.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Dalam wawancara sebelumnya bersama Sheep Esports, Rekkles juga menekankan perubahan besar dalam pola pikirnya. Ia tak lagi memikirkan apa langkah selanjutnya, melainkan sepenuhnya hadir untuk apa yang sedang dijalani sekarang.
“Saya akan sangat terkejut jika setelah ini masih bermain di tim LEC lain. Jadi saya memberikan 100%, bahkan 110%, karena ini mungkin yang terakhir.”
Kalimat itu terasa menghantam, bukan hanya bagi penggemar Los Ratones, tetapi juga bagi satu generasi fans League of Legends Eropa yang tumbuh bersama karier Rekkles sejak era awal Fnatic.
Menariknya, fokus Rekkles kali ini bukan tentang trofi atau target jangka panjang. Ia justru menekankan soal kehadiran, dedikasi, dan tanggung jawab terhadap rekan setimnya.
BACA JUGA: Bagaimana Industri Game Swedia Meraih Valuasi US$19 Miliar: Efisiensi, Kreativitas dan Konsistensi
Dalam diskusi tersebut, Rekkles menyebut dirinya kini berada dalam kondisi “100% fokus”, baik secara mental maupun profesional. Ini adalah versi Rekkles yang lebih tenang, matang, dan penuh penerimaan—seorang veteran yang sadar akan bobot warisannya.
Alih-alih mengejar masa depan, ia memilih menuangkan seluruh energinya pada apa yang tersisa.

Los Ratones sendiri bukan tanpa cerita. Setelah menjalani musim 2025 yang cukup menjanjikan, mereka memulai LEC Versus 2026 dengan hasil buruk—empat kekalahan beruntun sebagai pendatang baru di liga yang dikenal tak terduga.
Namun, cerita berubah drastis. Los Ratones bangkit dengan empat kemenangan beruntun, termasuk kemenangan krusial melawan tim-tim besar seperti Shifters dan G2 Esports. Kebangkitan ini membawa mereka kembali ke jalur perebutan tiket playoff.
Rekkles secara khusus memuji pemain-pemain muda di timnya.
“Saya senang kami bisa membawa anak-anak ini ke LEC. Mereka pantas mendapatkannya. Mereka bermain sangat bagus,” ungkapnya.
Berbicara tentang Rekkles berarti berbicara tentang sejarah League of Legends Eropa. Dalam karier lebih dari satu dekade, ia menorehkan pencapaian luar biasa:
Dari era keemasan Fnatic, transfer kontroversial ke G2 Esports, petualangan di Karmine Corp (LFL), pengalaman di T1 LCK Challengers, hingga kebangkitan bersama Los Ratones, Rekkles selalu menunjukkan daya tahan dan profesionalisme tingkat tinggi.
Jika ini benar-benar menjadi lagu perpisahannya di LEC, maka ia melakukannya dengan caranya sendiri—penuh dedikasi dan tanpa penyesalan.
Martin Larsson lahir pada 20 September 1996 di Älvängen, Swedia. Menariknya, di masa kecil ia tidak pernah bercita-cita menjadi pro player esports. Cinta pertamanya justru adalah sepak bola.

Namun, cedera lutut serius di usia 14 tahun mengakhiri mimpi tersebut. Dari titik itulah League of Legends hadir dan mengubah hidupnya.
“Apa pun yang saya lakukan, saya ingin membuatnya istimewa,” kata Rekkles.



Bakatnya melejit cepat di solo queue. Pada November 2012, tepat setelah berusia 16 tahun, Rekkles resmi bergabung dengan Fnatic, menjadikannya salah satu pro player termuda dalam sejarah LoL.

Di luar server, Rekkles juga menjadi figur publik besar di esports. Ia aktif di media sosial dan streaming, menjadi panutan bagi pemain muda. Jumlah pengikutnya mencerminkan pengaruh tersebut:
Ia rutin streaming dan berbagi insight, menjadikannya bukan hanya legenda kompetitif, tetapi juga ikon komunitas.
Belum ada pengumuman resmi soal pensiun. Namun satu hal jelas: Rekkles sedang berada di fase refleksi terdalam dalam kariernya. Jika Los Ratones benar-benar menjadi bab terakhir, maka ia menutupnya dengan kepala tegak—bermain bukan demi masa depan, tetapi demi makna.
Dan mungkin, itulah akhir yang paling pantas bagi seorang legenda!

Ikuti terus berita terbaru League of Legends di Ligagame! Kunjungi Instagram @ligagame_tv dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.
Baca selanjutnya:
Bocoran Locke, Champion Baru LoL dari Demacia: Role, Skill dan Senjata Petricite

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.