Legenda hidup League of Legends Korea, Lee “Faker” Sang-hyeok, kembali menjadi sorotan. Namun kali ini bukan karena performa luar biasa di Summoner’s Rift, melainkan karena komentarnya terkait format LCK Cup 2026 yang dinilai membingungkan dan kurang masuk akal.
Dalam sebuah livestream usai pertandingan DRX vs Hanjin BRION pada awal Super Week LCK Cup, Rabu (28/1), Faker secara terbuka mempertanyakan sistem kompetisi yang digunakan. Ia menilai format tersebut berpotensi merugikan tim-tim terkuat meski sudah tampil sempurna di fase grup.
“Tim Baron seperti sudah selesai… Saya mulai bertanya-tanya apakah sistem ini benar-benar masuk akal,” ujar Faker di stream-nya.

Sebagai pengingat, LCK Cup 2026 diikuti oleh 10 tim yang dibagi ke dalam dua grup besar:
Baron Group
BACA JUGA: Riot Umumkan Final LCK Cup 2026 di Hong Kong: Lokasi, Jadwal & Cara Nonton
Elder Group
Pada fase grup, setiap tim tidak bertemu tim satu grup, melainkan menghadapi seluruh tim dari grup seberang. Dua pekan awal dimainkan dengan format best-of-three (Bo3) bernilai satu poin, lalu ditutup Super Week dengan format best-of-five (Bo5) yang bernilai dua poin.

Setelah seluruh pertandingan grup selesai, sistem kelolosan dibagi sebagai berikut:
Masalah utama muncul karena status Winners Group dan Losers Group ditentukan dari total poin kolektif grup, bukan dari performa individual tiap tim.
BACA JUGA: T1 Kalahkan KT Rolster 2-0 di LCK Cup 2026 Lewat Comeback Ajaib di Game 2
Inilah yang menjadi sorotan utama Faker. Saat ini, T1 dan Gen.G sama-sama mencatat rekor sempurna 4–0, namun tidak ada jaminan keduanya lolos langsung ke Playoff.
Baron Group saat ini mengoleksi 10 poin:
Sementara itu, Elder Group telah mengoleksi 14 poin dan masih berpotensi bertambah. Jika Nongshim gagal mengalahkan KT Rolster, total poin Elder Group bisa mencapai 16, membuat Baron Group mustahil menjadi Winners Group, bahkan jika T1 dan Gen.G menutup fase grup dengan rekor 5–0.

Jadwal LCK Cup 2026 Sabtu 31 Januari
Beberapa skenario yang dinilai janggal antara lain:
Jika T1 dan Gen.G sama-sama menang, namun KT mengalahkan Nongshim, maka:
Alasannya, Gen.G unggul selisih game karena lebih sering menang 2–0, sementara T1 kerap menang 2–1.
Jika Nongshim mengalahkan KT, maka Dplus KIA, finalis Worlds sebelumnya, berpotensi tersingkir di fase grup. DK yang saat ini berstatus 2–2 akan jatuh ke 2–3 dan kalah selisih dari DRX, membuat peluang lolos mereka sangat tipis.
Meski tidak secara eksplisit menyebut format ini “buruk”, komentar Faker mencerminkan kegelisahan banyak pihak. Dalam sistem kompetitif, performa konsisten dan dominasi biasanya dihargai dengan jalur aman ke Playoffs. Namun LCK Cup 2026 justru membuka peluang bagi tim tak terkalahkan untuk melewati fase tambahan berisiko.
Sebagai ikon LCK dan figur sentral T1, suara Faker memiliki bobot besar. Kritik ini berpotensi memicu diskusi lebih luas mengenai keadilan format dan kemungkinan penyesuaian di edisi mendatang.
Format LCK Cup 2026 memang menawarkan dinamika dan ketegangan tinggi, tetapi juga menghadirkan paradoks kompetitif. Saat tim seperti T1 dan Gen.G bisa tampil sempurna namun tetap terancam Play-In, wajar jika Faker dan penggemar mulai mempertanyakan logikanya.
Apakah format ini akan dievaluasi ke depannya, atau justru dipertahankan demi drama kompetisi? Yang jelas, LCK Cup 2026 telah berhasil mencuri perhatian, bukan hanya karena pertandingannya, tetapi juga karena kontroversinya.

Ikuti terus berita terbaru League of Legends di Ligagame! Kunjungi Instagram @ligagame_tv dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.
Baca selanjutnya:
Bocoran Locke, Champion Baru LoL dari Demacia: Role, Skill dan Senjata Petricite

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.