Faker dan T1 Layangkan Gugatan Pada Fans atas Ujaran Kebencian

Bintang League of Legends Lee 'Faker' Sang-hyeok dan T1 telah menyiapkan gugatan terhadap penggemar yang terus melancarkan ujaran kebencian. Tim legal T1 berupaya memberikan perlindungan dari aksi atau perilaku toxic dalam upaya untuk "menciptakan budaya esports yang sehat". Hal ini disampaikan oleh tim pengacara organisasi pada 19 Juli di Korea Selatan.

Langkah Faker dan T1 menghadapi pelecehan verbal secara online bisa menjadi awal dari pergeseran budaya esports — sebuah industri di mana aksi toxic (beracun) hingga pelecehan secara verbal menjadi normal. 

Sebagai salah satu organisasi esports paling terkemuka di dunia, T1 memiliki sejarah kesuksesan yang luas di League of Legends. Pujian dan sorak-sorai fans mengiringi kiprah mereka yang gemilang dan bergelimang prestasi, mendominasi LCK hingga Worlds. Namun, gelombang kritik dan mungkin juga hujatan hingga verbal abuse pun segera datang tatkala T1 gagal.

Faker T1 Cry 46f27

Organisasi tersebut menerima "ancaman kekerasan" pada tahun 2020 setelah menempatkan rookie Lee 'Clozer' Ju-hyeon sebagai mid laner.  Ketika itu T1 sudah melakukan upaya untuk meredam dan menghentikan pelecehan tersebut.

BACA JUGA: Dua Ikon Olahraga Korea, Faker dan Son Heung-min Bertukar Jersey

Mereka juga mengatakan bahwa komentar kebencian meningkat setelah T1 gagal di MSI (Mid Summer Invitational) 2022  yang berlangsung di Korea Selatan. Itu adalah akhir yang mengecewakan bagi juara dunia abadi dan juga sang "The Unkillable Demon King", julukan termasyhur untuk Faker. Kini, tampaknya  organisasi merasa perlu mengambil langkah lebih jauh, terutama untuk Faker, sebagaimana telah diberitakan sebulan sebelumnya.  

Tim hukum Faker mengajukan tuntutan hukum pidana terhadap orang-orang yang melecehkannya secara online.  "Kebebasan berekspresi tidak boleh mencemarkan nama baik atau melanggar hak orang lain."

Melalui tim hukum T1, Faker telah mengajukan sejumlah tuntutan hukum terhadap mereka yang melecehkan bintang mid laner secara publik di bawah Undang-Undang Kriminal Korea Selatan.

Orang yang melanggar undang-undang penghinaan di Korea biasanya dihukum denda antara satu hingga dua juta won Korea, tetapi jika kasusnya cukup parah, pelaku juga dapat dikenai hukuman penjara, menurut tim hukum Faker. Karena sifat pelecehan yang terus-menerus, tim hukum berharap bahwa hukumannya akan lebih besar daripada sekedar denda uang.

“T1 akan mengajukan gugatan resmi terhadap John Do yang terus menerus dan berulang kali melecehkan Lee “Faker” Sang-hyeok secara online,” kata tim tersebut dalam sebuah pernyataan resmi, dilansir dari InvenGlobal.

"Kebebasan berekspresi tidak boleh mencemarkan nama baik atau melanggar hak orang lain. T1 akan terus melakukan yang terbaik untuk melindungi para pemain kami dan menciptakan budaya esports yang sehat,” tutup organisasi tersebut.

faker T1 lee 50f3d

Pernyataan resmi mengungkapkan niat mereka sehubungan dengan tindakan hukum mereka, menyatakan tindakan ini bukan "tindakan satu kali". “Kami di T1 bertekad untuk melindungi semua anggota afiliasi kami dari serangan yang tidak dapat dibenarkan.”

Sebagian besar pemain League of Legends paham betapa beratnya tantangan dan tekanan menjadi pro player, terutama ketika bermain untuk tim top di salah satu wilayah terbaik di dunia. Bahkan Faker, yang secara luas dianggap sebagai yang terhebat sepanjang masa, tidak luput dari persoalan ini. 

BACA JUGA: Riot Jalin Kemitraan dengan Organisasi Esports Untuk Star Guardian

Tim kuasa hukum Faker terpaksa mengambil tindakan setelah sekelompok orang terus menerus mengirimkan serangan pribadi yang jahat ke arah sang bintang. Pelecehan terus-menerus ini telah memberi Faker, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya stres dan rasa sakit yang tidak semestinya, menurut pernyataan tim hukum.

"Sementara kami memantau berbagai komunitas online, kami mengetahui bahwa sekelompok kecil posting netizen yang penuh kebencian mencoba mendominasi sebagian besar dari semua posting di komunitas itu," kata tim hukum dalam sesi dengan media, menurut terjemahan oleh Inven Global. "Terdakwa adalah sekelompok kecil orang yang terus-menerus meninggalkan posting dan komentar seperti itu sejak awal tahun."

Contoh komentar kebencian tidak disebutkan sehingga identitas mereka yang digugat tidak terungkap, tetapi salah satu contoh adalah fitnah terhadap ibu Faker, bersama dengan gambar yang “akan dianggap sangat busuk.” T1 telah memperingatkan orang-orang ini untuk berhenti menyerang Faker, tetapi peringatan itu tidak pernah diindahkan.

T1 bukan satu-satunya organisasi LCK yang saat ini mengalami serangan seperti ini. Baru-baru ini organisasi KT Rolster membuat pembelaan serupa untuk staf mereka, merilis pernyataan publik yang mengutuk aksi beberapa penggemar setelah menerima pesan dan paket yang mengancam.

Ikuti terus berita terbaru League of Legends di Ligagame! Kunjungi Instagram @ligagame_tv dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.

Baca selanjutnya:

Skuad LoL TSM Ikut Bootcamp Bersama Perwira Angkatan Laut AS

LIGAGAME ESPORTS
The First Full-Service Esports Agency in Indonesia

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.


© 2020 PT Lintas Portal Indonesia. All rights reserved.

Follow Ligagame Esports

Update terus dengan berita esports dan gaming terbaru!