Gelombang protes terhadap Sony semakin membesar. Sejumlah komunitas gamer kini mengajak para pemilik PlayStation 5 untuk melakukan aksi PlayStation Blackout, yakni tidak menggunakan konsol PS5 maupun layanan online PlayStation selama satu minggu penuh.
Gerakan ini muncul setelah berbagai keputusan Sony dinilai mengecewakan komunitas, mulai dari dorongan menuju ekosistem game sepenuhnya digital, penutupan beberapa studio, hingga minimnya perhatian terhadap permintaan penggemar terkait waralaba klasik PlayStation. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 23–30 Agustus 2026 dan mulai ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial maupun forum komunitas gaming.
Komunitas Gamer Serukan Aksi Blackout
Inisiatif ini dipelopori oleh komunitas Does it Play?, sebuah kelompok yang selama bertahun-tahun mengampanyekan pentingnya pelestarian media fisik serta hak pemain untuk menikmati game tanpa harus selalu terhubung ke internet.
Gerakan tersebut juga mendapat dukungan dari Stop Killing Games, organisasi yang selama ini mendorong hadirnya regulasi agar penerbit tidak bisa begitu saja mematikan server game yang sudah dibeli konsumen. Menurut para penggagasnya, aksi blackout merupakan bentuk protes damai yang diharapkan mampu menunjukkan bahwa komunitas PlayStation masih menginginkan pilihan selain masa depan yang sepenuhnya digital.
Apa yang Harus Dilakukan Peserta Blackout?
Konsep PlayStation Blackout sebenarnya cukup sederhana. Selama periode tujuh hari tersebut, peserta diminta untuk:
Harapannya, jika jumlah peserta cukup besar, penurunan aktivitas pengguna dapat menjadi sinyal bagi Sony bahwa komunitas tidak puas dengan arah kebijakan perusahaan.
Rencana Sony Tinggalkan Disc Jadi Pemicu Utama
Salah satu alasan terbesar munculnya gerakan ini adalah kabar bahwa Sony berencana semakin meninggalkan penggunaan media fisik dan beralih menuju distribusi game digital secara penuh dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi sebagian pemain, keputusan tersebut dianggap merugikan karena koleksi game fisik masih memiliki nilai penting, baik sebagai bentuk kepemilikan permanen maupun koleksi.
Banyak gamer juga khawatir bahwa dominasi distribusi digital akan membuat mereka sepenuhnya bergantung pada server dan kebijakan perusahaan.
Tidak Hanya Soal Game Digital
Kemarahan komunitas ternyata tidak hanya dipicu oleh isu media fisik. Beberapa keputusan Sony lainnya juga ikut menjadi sorotan, seperti:
Akumulasi berbagai keputusan tersebut membuat sebagian pemain merasa Sony mulai menjauh dari harapan basis penggemarnya.
Apakah Blackout Bisa Berhasil?
Meski gerakan ini mendapat perhatian luas, tidak sedikit yang meragukan efektivitasnya. Sebagian anggota komunitas menilai jumlah peserta kemungkinan tidak akan cukup besar untuk memberikan dampak signifikan terhadap Sony. Mengingat jutaan pengguna PlayStation di seluruh dunia tetap aktif memainkan game populer seperti Fortnite, Call of Duty, EA Sports FC, hingga berbagai game live service lainnya, aksi mogok ini dinilai sulit memengaruhi statistik penggunaan secara keseluruhan.
Namun di sisi lain, para pendukung gerakan berpendapat bahwa tujuan utama bukan semata-mata menurunkan angka pengguna, melainkan membangun kesadaran mengenai pentingnya hak konsumen dalam industri video game modern.
Masa Depan PlayStation Jadi Sorotan
Terlepas dari berhasil atau tidaknya aksi PlayStation Blackout, fenomena ini menunjukkan bahwa komunitas gamer kini semakin vokal terhadap kebijakan perusahaan game besar.
Di era distribusi digital, isu mengenai kepemilikan game, pelestarian media fisik, akses terhadap judul lama, hingga keberlangsungan server menjadi topik yang semakin sering diperbincangkan.
Kini perhatian tertuju pada Sony. Apakah perusahaan akan memberikan tanggapan resmi terhadap gelombang protes ini, atau tetap melanjutkan strategi transformasi menuju ekosistem PlayStation yang semakin digital? Jawabannya kemungkinan baru akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang, terutama setelah aksi Blackout PS5 dijadwalkan berlangsung pada akhir Agustus 2026.
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.