Platform game dan kreasi digital Roblox tengah menghadapi periode yang cukup berat. Perusahaan mengakui bahwa minimnya game yang mampu menjadi fenomena viral ikut berkontribusi terhadap hasil keuangan yang mengecewakan.
Kondisi tersebut terjadi ketika pertumbuhan pengguna Roblox mulai melambat setelah bertahun-tahun mengalami ekspansi pesat. Dalam waktu sekitar satu tahun, harga saham perusahaan juga turun drastis hingga menghapus sekitar US$70 miliar atau lebih dari Rp1.100 triliun dari nilai pasar Roblox.
Roblox menyampaikan laporan keuangan terbarunya pada 31 Juli. Dari laporan tersebut terlihat bahwa tantangan perusahaan bukan hanya berkaitan dengan kondisi pasar, tetapi juga kemampuan platform mempertahankan engagement pengguna melalui pengalaman bermain yang menarik.
Pengguna Aktif Roblox Terus Menurun
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah jumlah daily active users (DAU) Roblox. Pada kuartal kedua, Roblox mencatat sekitar 123 juta pengguna aktif harian. Angka tersebut mengalami penurunan cukup jauh dibandingkan titik tertinggi yang mencapai 152 juta pengguna pada kuartal ketiga 2025.
Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan pengguna Roblox tidak lagi secepat periode sebelumnya. Bukan hanya jumlah pemain yang menjadi perhatian. Pengeluaran pengguna yang tercermin melalui metrik bookings juga mengalami perlambatan.
Roblox mencatat pertumbuhan bookings sebesar 8 persen secara tahunan. Angka tersebut relatif kecil dibandingkan pertumbuhan yang sebelumnya berhasil dicapai perusahaan. Kombinasi penurunan engagement dan perlambatan pengeluaran pengguna akhirnya menjadi perhatian investor.
Roblox Akui Kekurangan Game Viral
Roblox pada dasarnya memiliki model bisnis yang sangat bergantung pada kreativitas komunitas. Platform tersebut memungkinkan pengguna menciptakan berbagai pengalaman bermain yang kemudian dapat dinikmati jutaan pemain lainnya. Namun, model tersebut juga membuat performa Roblox sangat bergantung pada kemunculan game atau pengalaman yang mampu menjadi viral.
Dalam laporan keuangannya, perusahaan mengakui bahwa kurangnya pengalaman viral menjadi salah satu faktor yang membuat engagement pengguna melemah. Pemain disebut menghabiskan lebih banyak waktu pada pengalaman baru dan game yang sudah bertahan lama atau evergreen, tetapi kategori tersebut menghasilkan monetisasi per jam yang lebih rendah dibandingkan game viral yang sebelumnya populer. Dengan kata lain, Roblox masih memiliki banyak konten untuk dimainkan, tetapi tidak semuanya mampu menghasilkan tingkat pendapatan yang sama.
Ketergantungan pada Game Viral Jadi Tantangan
Kondisi tersebut menunjukkan sisi lain dari kekuatan Roblox. Platform ini memang dapat menampung ribuan bahkan jutaan pengalaman buatan komunitas, tetapi tidak semua game mampu menarik perhatian dalam skala besar.
Game viral biasanya dapat menghasilkan efek domino. Ketika sebuah pengalaman menjadi populer, pemain baru berdatangan, waktu bermain meningkat, dan pengeluaran dalam platform ikut terdorong.
Sebaliknya, ketika tidak ada game yang mampu menembus popularitas tersebut, engagement dapat terpecah ke banyak pengalaman dengan tingkat monetisasi yang lebih rendah. Inilah salah satu tantangan yang kini harus dihadapi Roblox.
Algoritma Rekomendasi Juga Berpengaruh
Roblox juga mengungkapkan bahwa perubahan pada algoritma rekomendasi ikut memengaruhi kondisi tersebut. Sistem rekomendasi saat ini lebih diarahkan untuk meningkatkan retensi pengguna dalam jangka panjang. Artinya, algoritma berusaha menampilkan game yang berpotensi membuat pemain kembali menggunakan Roblox secara konsisten.
Namun, strategi tersebut memiliki konsekuensi terhadap pendapatan jangka pendek. Roblox mengatakan algoritma memberikan lebih banyak eksposur kepada game dengan tingkat retensi tinggi, meskipun pengalaman tersebut memiliki monetisasi jangka pendek yang lebih rendah.
Perubahan ini pada akhirnya ikut memperbesar pergeseran waktu bermain dari game viral yang menghasilkan monetisasi tinggi menuju kombinasi pengalaman baru dan evergreen.
Nilai Saham Roblox Anjlok 70 Persen
Masalah pertumbuhan pengguna dan monetisasi tersebut turut tercermin di pasar saham. Dalam 12 bulan terakhir, saham Roblox dilaporkan telah kehilangan sekitar 70 persen nilainya. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$70 miliar dari kapitalisasi pasar perusahaan.
Bagi perusahaan teknologi dan gaming yang sebelumnya menikmati pertumbuhan pesat, penurunan sebesar itu tentu menjadi pukulan besar.
Investor kini tidak hanya melihat kemampuan Roblox menghasilkan pendapatan, tetapi juga mempertanyakan apakah model pertumbuhan berbasis game viral dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Roblox Tak Berikan Proyeksi Keuangan Setahun Penuh
Tingkat ketidakpastian juga terlihat dari keputusan Roblox untuk tidak memberikan full-year financial guidance. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih belum memiliki gambaran yang cukup jelas mengenai bagaimana performanya akan berkembang hingga akhir 2026.
Situasi tersebut membuat investor harus menunggu perkembangan beberapa kuartal berikutnya untuk melihat apakah perlambatan hanya bersifat sementara atau justru menjadi tren baru. Perusahaan perlu menemukan cara untuk meningkatkan engagement sekaligus menjaga monetisasi tanpa terlalu bergantung pada satu atau dua pengalaman yang menjadi viral.
Analis Soroti Masa Depan Roblox
Hasil keuangan terbaru Roblox juga mendapatkan respons negatif dari sejumlah analis. Perusahaan riset investasi Morningstar bahkan menggambarkan hasil tersebut sebagai sangat buruk. Mereka menilai hampir seluruh indikator utama yang berkaitan dengan engagement dan pengeluaran pengguna bergerak ke arah yang tidak menguntungkan.
Analis juga memperingatkan bahwa pertumbuhan jangka panjang Roblox dapat semakin sulit dipertahankan apabila perusahaan terlalu bergantung pada game viral yang sifatnya sulit diprediksi.
Masalahnya, tidak ada formula pasti untuk menciptakan game yang akan menjadi fenomena global. Bahkan kreator dengan pengalaman sekalipun tidak dapat menjamin bahwa sebuah pengalaman akan mendapatkan jutaan pemain.
Roblox Perlu Cari Formula Baru
Roblox kini menghadapi tantangan untuk menemukan keseimbangan antara retensi pemain, monetisasi, dan kemunculan game viral. Platform tersebut masih memiliki komunitas kreator yang besar dan ekosistem game yang sangat luas. Namun, hasil kuartal terbaru memperlihatkan bahwa banyaknya konten tidak otomatis menjamin pertumbuhan pengguna maupun pendapatan.
Perusahaan juga perlu membuktikan bahwa strategi algoritma baru dapat menciptakan engagement jangka panjang tanpa mengorbankan monetisasi secara berlebihan. Dengan nilai pasar yang telah menyusut sekitar US$70 miliar dan jumlah pengguna aktif harian yang turun dari puncaknya, perjalanan Roblox sepanjang 2026 akan menjadi periode penting.
Pertanyaan besarnya kini bukan hanya apakah Roblox mampu melahirkan game viral berikutnya, tetapi apakah perusahaan dapat membangun pertumbuhan yang konsisten tanpa harus selalu menunggu satu game menjadi fenomena besar.

Ikuti terus berita tekno dan Games dan Esports di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.