Sebuah gugatan hukum di China menarik perhatian komunitas gaming. Seorang ayah menggugat empat perusahaan game besar setelah menilai sistem anti-kecanduan yang diterapkan industri belum mampu mencegah anaknya bermain secara berlebihan. Menariknya, tuntutan yang diajukan bukan bernilai miliaran rupiah. Sang ayah hanya meminta kompensasi sebesar 10 yuan atau sekitar Rp24 ribu. Yup, ini kurang lebih setara dengan harga BBM 2 liter Pertalite di pom eceran :).
Pria bermarga Qin tersebut menggugat Tencent, NetEase, miHoYo, dan 37 Interactive Entertainment di Pengadilan Kabupaten Tanghe, Provinsi Henan. Meski nominalnya sangat kecil, Qin menegaskan bahwa tujuan utama gugatan bukan mendapatkan keuntungan finansial. Ia ingin perusahaan game memperketat penerapan sistem perlindungan pemain muda.
Ayah Klaim Anak Bermain Game hingga Ribuan Jam !
Menurut laporan South China Morning Post, Qin mengatakan putranya telah menghabiskan waktu bertahun-tahun bermain game online. Kebiasaan tersebut disebut semakin mengkhawatirkan ketika sang anak berada di rumah pada akhir pekan. Qin mengklaim putranya sering bermain hingga larut malam, bahkan baru berhenti sekitar pukul 03.00 atau 04.00 dini hari.
Salah satu akun game yang diperiksa keluarga juga dilaporkan mencatat waktu bermain hingga 1.868 jam sejak Maret 2024. Jika dirata-ratakan, angka tersebut setara dengan sekitar 2,44 jam bermain per hari selama periode yang disebutkan.
Namun, persoalan tidak berhenti pada durasi bermain. Qin juga mengeklaim putranya berhasil melewati sistem pembatasan usia dengan menggunakan identitas kakak perempuannya yang sudah dewasa ketika membuat akun. Klaim tersebut menjadi bagian penting dari gugatan karena menunjukkan adanya celah dalam sistem verifikasi usia yang menurut Qin seharusnya dapat mencegah anak di bawah umur bermain secara berlebihan.

China Punya Aturan Ketat untuk Gamer di Bawah Umur
China sebenarnya sudah menerapkan regulasi ketat mengenai aktivitas gaming anak dan remaja. Sejak 2021, pemain di bawah umur hanya diperbolehkan memainkan game online pada waktu yang sangat terbatas, yakni pukul 20.00 hingga 21.00 pada Jumat, Sabtu, Minggu, serta hari libur resmi.
Aturan tersebut dibuat sebagai langkah untuk mengurangi risiko kecanduan game sekaligus melindungi kesehatan dan aktivitas sosial anak. Karena itu, kasus yang diajukan Qin tidak sekadar menyoroti berapa lama seorang anak bermain game. Gugatan tersebut juga mempertanyakan seberapa efektif perusahaan menjalankan mekanisme verifikasi identitas dan pembatasan waktu bermain.
Gugatan Muncul Setelah Insiden Obat
Perkara ini menjadi semakin serius karena gugatan diajukan sekitar satu bulan setelah putra Qin mengalami insiden kesehatan. Menurut laporan yang menjadi sumber informasi, pada 23 Mei, remaja tersebut menelan 18 tablet obat penurun demam. Ia kemudian mengalami kondisi serius, kehilangan kesadaran, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter kemudian mendiagnosisnya mengalami keracunan obat. Sang remaja akhirnya pulih setelah memperoleh perawatan.
Namun, hingga kini, alasan di balik tindakannya tersebut belum diketahui. Remaja itu disebut tidak menjelaskan kepada keluarganya mengapa ia menelan obat dalam jumlah tersebut.
Qin menduga kejadian tersebut mungkin memiliki hubungan dengan kebiasaan bermain game putranya. Akan tetapi, hubungan tersebut belum dikonfirmasi dan masih sebatas dugaan dari pihak keluarga. Hal ini penting karena tidak tepat menyimpulkan bahwa aktivitas gaming menjadi penyebab langsung insiden tersebut tanpa bukti lebih lanjut.

Persidangan Masih Tertunda
Gugatan Qin awalnya dijadwalkan untuk menjalani persidangan pada 6 Juli. Namun, proses tersebut ditunda setelah beberapa perusahaan game yang digugat mempertanyakan kewenangan pengadilan untuk menangani perkara tersebut.
Hingga informasi ini diberitakan, belum ada tanggal persidangan baru yang diumumkan. Dengan begitu, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah gugatan tersebut akan menghasilkan perubahan terhadap sistem perlindungan pemain muda di perusahaan-perusahaan yang bersangkutan.
Bukan Pertama Kalinya Industri Game Digugat
Kasus Qin juga bukan satu-satunya perkara hukum yang membawa isu gaming addiction ke pengadilan. Pada 2023, seorang ibu di Arkansas, Amerika Serikat, pernah menggugat sejumlah perusahaan game besar, termasuk Activision Blizzard, Electronic Arts, Epic Games, Microsoft, dan Ubisoft. Gugatan tersebut juga berkaitan dengan dugaan dampak kecanduan game terhadap putranya.
Ada pula kasus berbeda yang tidak kalah menarik. Seorang gamer muda pernah menggugat Nintendo terkait transaksi mikro dalam Mario Kart Tour setelah secara tidak sengaja menggunakan kartu kredit milik ayahnya. Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara industri game, pemain muda, orang tua, dan sistem monetisasi semakin mendapat perhatian hukum.
Perlindungan Gamer Muda Jadi Tantangan Industri
Perkembangan teknologi membuat perusahaan game memiliki berbagai alat untuk membatasi waktu bermain, melakukan verifikasi usia, serta mengawasi aktivitas akun. Namun, penerapan sistem tersebut tetap menghadapi tantangan ketika pengguna mencoba melewati pembatasan dengan menggunakan identitas orang lain.
Kasus Qin kembali membuka diskusi mengenai seberapa jauh tanggung jawab perusahaan game dalam melindungi pemain muda. Di satu sisi, orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi aktivitas anak. Di sisi lain, pengembang dan regulator juga dituntut memastikan sistem keamanan usia benar-benar berfungsi.
Gugatan senilai 10 yuan tersebut mungkin terlihat kecil dari sisi nominal. Namun, pesan yang ingin disampaikan Qin jauh lebih besar: ia ingin perusahaan game lebih serius memastikan sistem anti-kecanduan dan perlindungan anak benar-benar berjalan di lapangan.

Ikuti terus berita tekno dan Games dan Esports di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.