Pemerintah Filipina mengambil langkah baru yang berpotensi mengubah masa depan industri esports di negara tersebut. Games and Amusements Board (GAB), lembaga regulator olahraga profesional Filipina, resmi mengesahkan aturan yang melonggarkan persyaratan tes narkoba bagi pemain esports profesional asing.
Keputusan ini dianggap sebagai perubahan besar setelah bertahun-tahun regulasi ketat dinilai menghambat penyelenggaraan turnamen internasional di Filipina. Bagi sebagian pelaku industri, kebijakan baru tersebut bisa menjadi awal kebangkitan Filipina sebagai salah satu pusat esports Asia Tenggara.
Sebelumnya, semua atlet esports profesional dari luar Filipina diwajibkan memiliki lisensi atlet GAB untuk mengikuti turnamen yang digelar di negara tersebut. Persyaratan memperoleh lisensi itu mencakup tes narkoba wajib tahunan, termasuk pemeriksaan terhadap zat seperti ganja dan metamfetamin. Aturan tersebut cukup kontroversial karena banyak pemain internasional berasal dari negara yang melegalkan penggunaan ganja rekreasional.
Kini, melalui Resolusi GAB No. 2026-13, pemain asing tidak lagi diwajibkan memiliki lisensi reguler. Sebagai gantinya, mereka akan memperoleh Special Esports License (SEL) yang hanya berlaku selama turnamen berlangsung dengan masa aktif maksimal 30 hari.
Dengan sistem baru ini, pemain asing tetap menjalani proses administrasi dan pembayaran lisensi, namun tes narkoba tidak lagi menjadi syarat wajib.
Ketua GAB, Francisco Rivera, menjelaskan bahwa esports dipandang sebagai industri yang digerakkan sektor swasta sehingga campur tangan pemerintah seharusnya seminimal mungkin. Menurutnya, perubahan aturan ini diharapkan dapat membantu Filipina kembali masuk dalam peta penyelenggara event esports internasional.
Harapan tersebut cukup masuk akal mengingat Filipina pernah dikenal sebagai salah satu pasar esports terbesar di Asia, terutama untuk komunitas Dota 2. Organisasi esports nasional Filipina atau Philippine Esports Organization (PESO) juga disebut ikut berdiskusi dengan GAB terkait perubahan regulasi tersebut.
Kebijakan tes narkoba untuk pemain esports sebenarnya mulai diterapkan sejak 2017. Dampak paling besar dari aturan tersebut terlihat pada Galaxy Battles II: Emerging Worlds, turnamen Dota 2 dengan total hadiah US$500 ribu yang dijadwalkan berlangsung di Filipina pada 2018.
Saat itu, kompetisi dirancang sebagai bagian dari Dota Pro Circuit (DPC) Major, yang berarti memiliki nilai penting dalam jalur menuju turnamen dunia.
Namun hanya dua minggu sebelum dimulai, pengembang Dota 2, Valve, mencabut status Major dari turnamen tersebut. Alasan resmi yang disampaikan mengacu pada pelanggaran privasi pemain yang dianggap tidak masuk akal.
Meski tidak secara eksplisit menyebut tes narkoba, banyak pihak meyakini aturan tersebut menjadi faktor utama.
Akibatnya, sejumlah organisasi besar seperti Team Liquid, Virtus.pro, dan Team Secret memutuskan mundur dari kompetisi.
Jumlah peserta turun drastis dan reputasi Filipina sebagai tuan rumah turnamen internasional ikut terdampak.
Setelah kontroversi Galaxy Battles II, Filipina mengalami penurunan tajam dalam penyelenggaraan turnamen internasional Dota 2.
Negara yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu basis penggemar Dota terbesar di dunia justru kehilangan momentum.
Padahal, Manila Major 2016 masih dikenang banyak penggemar sebagai salah satu turnamen Dota 2 terbaik sepanjang masa berkat atmosfer penonton yang luar biasa.
Sejak insiden tersebut, harapan komunitas agar Filipina menjadi tuan rumah event besar seperti The International juga belum terwujud.
Banyak pihak menilai perubahan regulasi saat ini datang terlambat, terutama ketika ekosistem kompetitif Dota 2 global mulai melambat.
Meski scene Dota 2 mengalami penurunan, industri esports Filipina tidak sepenuhnya terpuruk. Dalam beberapa tahun terakhir, Mobile Legends: Bang Bang tumbuh sangat cepat dan berhasil menjadi salah satu game esports terbesar di negara tersebut.
Turnamen Mobile Legends tetap mampu menarik organisasi internasional meski regulasi ketat masih berlaku saat itu. Fenomena ini membuat Mobile Legends perlahan menggantikan dominasi Dota sebagai game esports utama di Filipina.
Longgarnya aturan bagi pemain asing menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah terhadap industri esports.
Jika kebijakan ini mampu menarik kembali penyelenggara turnamen internasional, Filipina berpeluang merebut kembali statusnya sebagai salah satu pusat esports terbesar di Asia Tenggara.
Namun pertanyaan besarnya tetap sama: apakah perubahan ini datang cukup cepat untuk mengembalikan momentum yang sempat hilang bertahun-tahun lalu? Jawabannya kemungkinan baru terlihat ketika event global mulai kembali melirik Filipina sebagai rumah kompetisi esports internasional.
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.