Kejutan besar terjadi menjelang dimulainya The International 2026 (TI 2026). LGD Gaming resmi mendatangkan Topias “Topson” Taavitsainen sebagai mid laner baru untuk menghadapi turnamen Dota 2 terbesar tahun ini di Shanghai, China.
Topson masuk untuk menggantikan Santiago “TaiLung” Agüero Gustavo, pemain berusia 17 tahun yang sebelumnya menjadi mid laner LGD. TaiLung dipastikan tidak dapat tampil di TI 2026 setelah mendapat hukuman terkait isu competitive integrity. Selain itu, PGL menjatuhkan larangan permanen kepada sang pemain untuk mengikuti seluruh event yang mereka selenggarakan.
Kehadiran Topson membuat LGD mendapatkan sosok berpengalaman hanya beberapa hari sebelum TI 2026 dimulai. Menariknya, pemain asal Finlandia tersebut bukan nama sembarangan. Ia merupakan juara The International dua kali bersama OG dan kini berkesempatan mengejar gelar TI ketiganya bersama organisasi yang pernah menjadi lawan bersejarahnya.
Topson Kembali ke Panggung Kompetitif Dota 2
Kepindahan ini sekaligus menandai kembalinya Topson ke kompetisi profesional setelah hampir dua tahun meninggalkan skena Dota 2. Pemain berusia 28 tahun itu terakhir kali tampil di The International 2024 bersama Tundra Esports.
Dalam turnamen tersebut, Topson membantu Tundra mengamankan posisi ketiga. Setelah TI 2024, sang mid laner memutuskan untuk pensiun sementara dari kompetisi profesional dengan alasan keluarga sekaligus rencana menjalani kewajiban wajib militer di Finlandia.
Kini, Topson kembali ketika panggung terbesar Dota 2 sudah berada di depan mata. Waktu persiapannya bersama LGD memang sangat singkat, tetapi pengalaman panjangnya di pertandingan bertekanan tinggi bisa menjadi modal penting. Apalagi, Topson sudah mengetahui bagaimana rasanya bermain dan memenangkan pertandingan paling penting dalam kalender kompetitif Dota 2.
Dua Gelar TI Bersama OG Jadi Modal Besar
Nama Topson melejit setelah menjadi bagian dari sejarah OG. Bersama tim tersebut, ia memenangkan Aegis of Champions secara beruntun pada TI 2018 dan TI 2019. Kesuksesan tersebut membuat Topson menjadi salah satu mid laner paling ikonik dalam sejarah Dota 2. Ia dikenal bukan hanya karena kemampuan mekaniknya, tetapi juga keberaniannya menggunakan hero dan build yang tidak biasa.
Salah satu contoh yang masih sering dibicarakan adalah permainan mid Gyrocopter dengan Diffusal Blade yang ia tampilkan di TI9. Gaya bermain Topson yang agresif, kreatif, dan sulit ditebak membuat lawan kerap dipaksa beradaptasi dengan pendekatan yang tidak konvensional.
Kini, karakter tersebut akan kembali diuji dalam kondisi yang jauh berbeda. Topson tidak lagi memperkuat OG, melainkan bergabung dengan skuad LGD yang dibangun dari core Amerika Selatan.
Roster LGD untuk TI 2026
Dengan kedatangan Topson, berikut susunan roster LGD Gaming untuk TI 2026:
Yuma “Yuma” Langlet — Carry
Topias “Topson” Taavitsainen — Mid laner
Adrián “Wisper” Dobles — Offlaner
Thiago “Thiolicor” de Oliveira Cordeiro — Soft support
Matheus “KJ” Santos Jungles Diniz — Hard support/Captain
Mayoritas roster tersebut dibangun dari mantan core HEROIC yang sebelumnya mencatat sejarah dengan finis di enam besar TI tahun lalu. Pencapaian tersebut merupakan posisi terbaik yang pernah diraih tim Amerika Selatan di turnamen utama Dota 2 tersebut.
LGD sendiri juga datang ke TI 2026 dengan modal yang cukup menarik. Mereka tampil dominan dalam kualifikasi TI 2026 untuk wilayah Amerika Selatan setelah sebelumnya finis sebagai runner-up di BLAST Slam VII.
Meski demikian, performa LGD pada dua turnamen tier-1 terakhir sebelum TI, yakni Esports World Cup dan 1win Essence II, belum terlalu konsisten. Kedatangan Topson pun berpotensi menjadi perubahan besar yang harus segera diintegrasikan.
LGD Harus Beradaptasi dengan Waktu Singkat
Tantangan terbesar LGD bukan hanya soal kemampuan individual Topson. Mereka harus segera membangun chemistry dengan pemain yang baru bergabung beberapa hari sebelum TI dimulai.
Topson juga harus beradaptasi dengan sistem permainan tim yang sebelumnya dibangun bersama TaiLung. Perbedaan gaya bermain, hero pool, hingga pola komunikasi dapat memengaruhi performa LGD ketika pertandingan resmi dimulai.
Di sisi lain, pengalaman Topson di panggung TI menjadi faktor yang sulit diabaikan. Ia sudah pernah merasakan tekanan luar biasa dari turnamen ini, bahkan berhasil memenangkan dua edisi berturut-turut.
Jika LGD mampu menggabungkan pengalaman Topson dengan fondasi permainan roster Amerika Selatan mereka, perubahan mendadak ini justru dapat menjadi salah satu storyline paling menarik di TI 2026.
TaiLung Buka Suara soal Hukuman yang Diterimanya
Pergantian pemain ini terjadi hanya sehari setelah LGD mengumumkan adanya informasi mengenai dugaan pelanggaran competitive integrity yang melibatkan TaiLung. LGD kemudian melakukan peninjauan internal dan melaporkan masalah tersebut kepada penyelenggara turnamen terkait.
Setelah proses investigasi, TaiLung dinyatakan tidak diperbolehkan mengikuti TI 2026. PGL kemudian menjatuhkan ban permanen dari seluruh event PGL kepada pemain muda tersebut.
LGD tidak menjelaskan tindakan atau perilaku spesifik yang menjadi dasar hukuman. Karena itu, penting untuk membedakan antara fakta yang telah diumumkan penyelenggara dan berbagai spekulasi yang berkembang di komunitas Dota 2.
TaiLung sendiri telah memberikan respons melalui Instagram Story. Ia menyatakan bahwa diamnya terkait kasus tersebut tidak dapat dianggap sebagai pengakuan terhadap tuduhan yang beredar.
Pemain tersebut juga mengatakan dirinya masih menunggu untuk menangani persoalan tersebut bersama pengacaranya dan akan menyelesaikan hal-hal terkait melalui jalur yang semestinya.
Topson Punya Kesempatan Memburu TI Ketiga
Kepindahan Topson ke LGD membuat TI 2026 semakin menarik untuk disimak. Ia bukan hanya comeback dari masa vakum kompetitif, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mencetak sejarah dengan meraih gelar The International ketiga.
Jika berhasil, Topson akan kembali mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain paling sukses dalam sejarah Dota 2. Bahkan ada bumbu cerita tambahan yang membuat transfer ini semakin menarik: pada TI 2018, OG yang diperkuat Topson mengalahkan LGD di Grand Final.
Delapan tahun berselang, keduanya kini berada di sisi yang sama.
Dengan waktu persiapan yang minim, tekanan besar, dan target tinggi, Topson akan langsung mendapatkan ujian berat. Namun jika ada satu hal yang sudah berkali-kali ia buktikan, itu adalah kemampuannya tampil berbeda ketika panggung Dota 2 berada di level paling tinggi.
Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah Topson bisa mengubah krisis roster LGD menjadi awal dari perjalanan menuju Aegis ketiganya?

Ikuti terus info terbaru seputar Dota2 dan berita esports terlengkap di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian!
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.