TI 2026 Bisa Jadi Kesempatan Terakhir China Bangkit di Dota 2

Ujian Terbesar Generasi Veteran?
by Visahat

Setelah penantian panjang, The International (TI) 2026 akhirnya kembali digelar di Shanghai, China. Ini menjadi pertama kalinya Negeri Tirai Bambu menjadi tuan rumah lagi sejak TI9 pada 2019. Bagi banyak penggemar, momen ini bukan sekadar perpindahan lokasi turnamen, tetapi juga kesempatan emas bagi Dota 2 China untuk membuktikan bahwa mereka masih layak bersaing di level tertinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, performa tim-tim China terus mengalami penurunan. Dominasi yang dulu identik dengan nama-nama seperti Wings Gaming, PSG.LGD, hingga Invictus Gaming perlahan memudar. Kini, harapan terbesar bertumpu pada Xtreme Gaming, Vici Gaming, dan Team Resilience untuk menghidupkan kembali kejayaan Dota 2 China di depan publik sendiri.

Jika gagal memanfaatkan kesempatan ini, bukan tidak mungkin era emas Dota 2 China benar-benar memasuki babak akhir.

Dominasi China Tinggal Kenangan

Tidak bisa dimungkiri, performa tim China sepanjang musim kompetisi terakhir jauh dari kata memuaskan. Sepanjang musim, tim asal China hanya mampu menembus empat besar turnamen LAN tier-S sebanyak dua kali. Xtreme Gaming berhasil tampil impresif di Birmingham, sedangkan Vici Gaming mencatatkan hasil positif pada Esports World Cup (EWC). Catatan tersebut tentu sangat kontras dibanding beberapa tahun silam ketika China hampir selalu menjadi kandidat juara di setiap turnamen besar.

Dahulu, trofi The International seolah bergantian singgah ke China, sementara tim seperti PSG.LGD rutin menjuarai Major dan mendominasi skena kompetitif dunia. Kini, kekuatan utama Dota 2 justru bergeser ke kawasan lain seperti Eropa Barat dan Eropa Timur, dengan tim-tim seperti BetBoom Team, PARIVISION, hingga Team Spirit menjadi favorit utama di berbagai ajang internasional.

Masalah Terbesar Bukan Hasil, Tapi Minim Regenerasi

Lebih mengkhawatirkan daripada hasil pertandingan adalah minimnya regenerasi pemain profesional di China. Hingga saat ini, tim-tim papan atas seperti Xtreme Gaming dan Vici Gaming masih mengandalkan nama-nama lama seperti:

  • Ame
  • Faith_bian
  • fy
  • y`
  • Xxs

Tidak ada yang meragukan kualitas para pemain tersebut. Mereka adalah legenda yang telah membawa nama China berjaya di panggung dunia selama hampir satu dekade. Namun, muncul pertanyaan besar: mengapa hampir tidak ada pemain muda yang mampu menggantikan mereka? Sementara kawasan lain terus melahirkan talenta baru, China justru terlihat masih mengandalkan generasi yang sama sejak 2016.

Kawasan Lain Terus Melahirkan Bintang Baru

Jika melihat perkembangan skena Dota 2 global, regenerasi pemain berjalan sangat baik di berbagai wilayah. Eropa Timur memiliki pemain muda seperti Satanic dan Malr1ne, sementara Team Spirit terus mencetak talenta melalui akademi Yellow Submarine.

Eropa Barat melahirkan nama-nama seperti Ammar dan bzm, Asia Tenggara memiliki Mikoto, Ws, serta sejumlah pemain muda berbakat lainnya.

Amerika Selatan mulai diperkuat TaiLung, sedangkan Amerika Utara juga masih mampu menghadirkan pemain seperti RCY.

Sebaliknya, China masih bergantung pada nama-nama yang sama. Bahkan pemain yang dianggap "generasi baru" seperti NothingToSay maupun shiro sebenarnya sudah bertanding di level tertinggi selama bertahun-tahun. Mereka bukan lagi wajah baru dalam kompetisi profesional.

Honor of Kings Disebut Jadi Salah Satu Penyebab

Salah satu faktor yang dianggap memengaruhi minimnya regenerasi Dota 2 di China adalah pesatnya perkembangan esports mobile. Game seperti Honor of Kings berhasil menarik perhatian generasi muda yang kini lebih memilih bermain MOBA melalui  perangkat seluler dibanding PC.

Kompetisi King Pro League (KPL) bahkan menawarkan hadiah fantastis dengan total prize pool yang mencapai jutaan dolar setiap tahunnya. Popularitas tersebut membuat banyak calon pemain profesional lebih memilih mengejar karier di Honor of Kings daripada Dota 2.

Akibatnya, bukan tidak mungkin talenta yang seharusnya menjadi penerus pemain seperti Ame atau Faith_bian kini justru berkembang di skena esports mobile. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi komunitas Dota 2 China dalam mempertahankan daya tarik kompetisi PC di kalangan pemain muda.

Veteran Belum Habis, Tapi Tidak Bisa Selamanya

Performa Ame, fy, maupun Faith_bian memang masih layak mendapat apresiasi. Meski beberapa di antaranya sempat mengumumkan pensiun, mereka kembali ke panggung kompetitif demi membantu tim bersaing di level tertinggi.

Namun, kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa regenerasi belum berjalan sebagaimana mestinya. Cepat atau lambat, para veteran ini akan benar-benar gantung mouse. Jika saat itu belum ada pemain muda yang siap menggantikan mereka, Dota 2 China berpotensi kehilangan daya saing di tingkat internasional.

TI 2026 Bisa Menjadi Titik Balik

Bermain di kandang sendiri memberikan keuntungan besar bagi tim-tim China. Atmosfer Shanghai dipastikan dipenuhi ribuan pendukung lokal yang haus melihat wakil negaranya kembali bersinar. Antusiasme publik pun masih sangat tinggi, terbukti tiket pertandingan dilaporkan habis hanya dalam hitungan beberapa menit setelah penjualan dibuka.

Harapan kini tertuju kepada Xtreme Gaming, Vici Gaming, maupun Team Resilience agar mampu mencatatkan perjalanan impresif di TI 2026. Mereka mungkin tidak harus menjadi juara. Namun setidaknya, mampu menembus babak akhir turnamen akan menjadi sinyal bahwa Dota 2 China masih memiliki masa depan.

Masa Depan Dota 2 China Dipertaruhkan di Shanghai

The International 2026 bukan hanya turnamen tahunan bagi China. Ajang ini bisa menjadi simbol kebangkitan atau justru mempertegas kemunduran salah satu kawasan paling bersejarah dalam dunia Dota 2.

Jika Xtreme Gaming, Vici Gaming, atau Team Resilience mampu tampil kompetitif di hadapan pendukung sendiri, momentum tersebut dapat menghidupkan kembali minat generasi muda untuk menekuni Dota 2 dan melahirkan bintang-bintang baru. Sebaliknya, apabila hasilnya kembali mengecewakan, kekhawatiran mengenai masa depan Dota 2 China akan semakin besar, terutama di tengah dominasi esports mobile seperti Honor of Kings yang terus menyerap talenta muda.

Karena itu, TI 2026 di Shanghai bukan sekadar perebutan Aegis of Champions. Bagi China, turnamen ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa mereka masih memiliki tempat di puncak kompetisi Dota 2 dunia.

ligagame home of dota2 indonesia 7b308 c7191

Ikuti terus info terbaru seputar Dota2 dan berita esports terlengkap di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian!

LIGAGAME ESPORTS
The First Full-Service Esports Agency in Indonesia

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.


© 2020 PT Lintas Portal Indonesia. All rights reserved.

Follow Ligagame Esports

Update terus dengan berita esports dan gaming terbaru!