Grand Final The International (TI) 2026 akhirnya mempertemukan dua raksasa Dota 2, Team Spirit dan TEAM VISION atau yang dikenal sebagai PARIVISION. Kepastian ini didapat setelah Team Spirit tampil dominan dan menghancurkan Team Yandex 2-0 pada lower bracket final, Minggu (23/8/2026).
Kemenangan tersebut membuat Team Spirit tinggal selangkah lagi dari sejarah besar. Yatoro dan kawan-kawan berpeluang merebut Aegis of Champions untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya menjadi juara pada TI 2021 dan TI 2023.
Namun, lawan yang menunggu di partai puncak bukan sembarang tim. TEAM VISION merupakan favorit utama TI 2026 dan menjadi satu-satunya tim yang sejauh ini mampu mengalahkan Spirit dalam dua pertemuan sebelumnya di turnamen ini.
Team Spirit Tampil Menggila di Lower Bracket Final
Team Spirit langsung menunjukkan mental juara ketika menghadapi Team Yandex. Dua game berlangsung dengan pola yang relatif sama: Yandex mampu memberikan tekanan pada fase laning, tetapi Spirit selalu menemukan cara untuk bangkit dan mengambil alih permainan.
Pada game pertama, Yatoro mendapatkan Terrorblade, salah satu hero carry andalannya. Ia langsung mendapatkan beberapa kill pada fase laning dan berkembang menjadi sumber damage utama Spirit.
Larl menggunakan Pangolier, tetapi mengalami kesulitan menghadapi Ember Spirit milik CJ. Dibantu Mirana milik Malady, CJ berkali-kali melakukan kombinasi serangan untuk menjatuhkan Pangolier.
Namun, kelemahan di lane ternyata tidak membuat Spirit panik.
Begitu mendapatkan power spike, Spirit langsung berkumpul dan mulai mengontrol map. Underlord milik Collapse juga memberikan fleksibilitas besar berkat kemampuan berpindah posisi dengan cepat.
Yatoro Jadi Mesin Pembunuh Game Pertama
Memasuki pertengahan pertandingan, keunggulan Yatoro semakin sulit dihentikan. Dalam sebuah teamfight sekitar menit ke-20, Terrorblade miliknya mendapatkan triple kill dan membangun keunggulan net worth yang sangat besar.
Bahkan ketika Yatoro terlihat farming sendirian di area yang telah dipasangi ward Yandex, lawan tetap ragu untuk melakukan inisiasi. Alih-alih menjadi korban, Yatoro justru mengejar Nature's Prophet milik Saksa dan mendapatkan kill tambahan hingga mencapai status Godlike. Spirit kemudian mengamankan Aegis tanpa perlawanan berarti sebelum mulai mengincar high ground Yandex.
Yandex sempat berhasil menghentikan Yatoro sebelum ia menggunakan Sunder ketika mereka mempertahankan base. Mereka juga mendapatkan beberapa kill tambahan dan hanya menyisakan Larl sebagai pemain Spirit yang bertahan.
Namun, keunggulan Spirit terlalu besar untuk dibalikkan. Mereka kembali berkumpul dan terus memenangkan teamfight. Game pertama akhirnya berakhir pada menit ke-37 dengan Terrorblade Yatoro mencatat KDA 16/1/3.
Selain Yatoro, permainan not me menggunakan Dark Willow juga mendapatkan banyak apresiasi berkat eksekusi skill yang presisi dan kemampuannya mengacaukan pergerakan pemain Yandex.

Game Kedua Kembali Menjadi Milik Spirit
Game kedua memiliki cerita yang hampir serupa. Yandex kembali memulai pertandingan dengan cukup baik. CJ menggunakan Snapfire dan berhasil mendominasi Larl di midlane. Statistik last hit dan deny menunjukkan perbedaan yang sangat jauh, yakni 33/15 milik CJ berbanding 14/0 milik Larl.
Yatoro juga mendapat tekanan besar. Collapse bahkan harus menggunakan Stampede dari Centaur Warrunner untuk membantu carry Spirit keluar dari situasi berbahaya.
Namun, lagi-lagi laning phase bukan masalah besar bagi Spirit.
Melalui rotasi dan teamfight yang tepat, Spirit perlahan mengembalikan keadaan. Yatoro yang menggunakan Shadow Fiend mulai mengumpulkan kill dan akhirnya mengambil alih posisi teratas dalam net worth.
Sinergi Spirit Bikin Yandex Tak Berkutik
Sekitar menit ke-20, support Spirit memainkan peran penting. Not me dengan Clockwerk dan rue menggunakan Hoodwink berhasil menahan Snapfire milik CJ yang sedang mundur. Mereka memberikan waktu yang cukup bagi Yatoro untuk datang dan menghabisi lawannya.
Karena pertarungan berlangsung di sekitar Tormentor, Spirit juga mendapatkan Shard secara gratis beberapa detik kemudian. Komposisi Spirit semakin sulit dihentikan. Pangolier, Clockwerk, Centaur Warrunner, dan Hoodwink menyediakan crowd control yang sangat melimpah sehingga Shadow Fiend milik Yatoro dapat memberikan damage dengan leluasa.
Inilah salah satu kekuatan terbesar Spirit di seri tersebut. Mereka tidak selalu membutuhkan keunggulan gold besar untuk memenangkan teamfight. Koordinasi antar pemain membuat Yandex kehilangan ritme. Spirit terus menyerang, mengisolasi hero lawan satu demi satu, dan hampir tidak memberikan kesempatan bagi Yandex untuk bernapas.
Yandex Menyerah Sebelum High Ground Jebol
Yandex sempat memberikan perlawanan pada menit ke-30 dengan berhasil menjatuhkan Yatoro sekaligus mengakhiri kill streak sang carry. Namun, hasil tersebut hanya menjadi gangguan kecil.
Empat menit kemudian, Spirit kembali melakukan teamfight besar dan menghancurkan Yandex. Tekanan terus berlanjut sampai akhirnya Yandex menyerah.
Menariknya, Yandex sebenarnya masih memiliki high ground yang belum sepenuhnya hancur dan sejumlah buyback yang tersedia. Namun, mereka tidak mampu menahan tekanan Spirit dan akhirnya mengetik GG. Yatoro kembali mencatat statistik impresif dengan KDA 17/2/8, sementara Larl menghasilkan 12/2/12 menggunakan Pangolier.
Spirit vs TEAM VISION, Pertemuan Ketiga di TI 2026
Grand Final nanti menjadi pertemuan ketiga antara Team Spirit dan TEAM VISION di TI 2026. Sayangnya bagi Spirit, dua pertemuan sebelumnya selalu berakhir dengan kemenangan VISION. Pertemuan pertama terjadi pada hari terakhir Group Stage. VISION berhasil menyapu Spirit dengan skor 2-0.
Kedua tim kemudian bertemu kembali di upper bracket semifinal. Kali ini Spirit mampu mengambil satu game, tetapi VISION tetap menang dengan skor 2-1. Catatan tersebut membuat TEAM VISION terlihat sebagai lawan yang sangat sulit ditaklukkan.
Namun, VISION bukan tim yang sepenuhnya tidak terkalahkan. Mereka pernah kehilangan map sepanjang perjalanan menuju Grand Final.
Di sisi lain, Team Spirit memiliki pengalaman luar biasa dalam pertandingan bertekanan tinggi. Pengalaman mereka sebagai juara TI 2021 dan TI 2023 bisa menjadi faktor pembeda ketika pertandingan terbesar akhirnya dimulai.
Yandex Finis Ketiga di TI 2026
Kekalahan dari Spirit membuat perjalanan Team Yandex berakhir di posisi ketiga TI 2026. Bagi tim yang baru menjalani debut di The International, pencapaian tersebut tetap sangat mengesankan. Yandex bahkan menjadi salah satu tim paling konsisten sepanjang musim dan berhasil mencapai podium pada turnamen terbesar Dota 2.
Yandex diperkirakan membawa pulang hadiah sebesar US$298.716.
Sementara itu, semua mata kini tertuju pada Grand Final. TEAM VISION datang dengan rekor positif melawan Spirit, sedangkan Spirit memiliki pengalaman dan mental juara yang tidak perlu diragukan.
Satu pertandingan akan menentukan siapa yang berhak mengangkat Aegis of Champions TI 2026. Apakah VISION akhirnya menyempurnakan perjalanan mereka dengan gelar juara, atau justru Team Spirit mencetak sejarah dengan merebut Aegis ketiga?

Ikuti terus info terbaru seputar Dota2 dan berita esports terlengkap di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian!
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.