Dota 2 Tak Butuh Hero ke-129 Sekarang, Valve Seharusnya Benahi 5 Masalah Ini

by Rex "Regum" Rusman

Dota 2 selalu punya cara untuk membuat komunitas penasaran setiap kali hero baru diperkenalkan. Mulai dari menunggu pengumuman skill, mencoba mencari kombinasi build paling absurd, sampai melihat pemain profesional menemukan potensi tersembunyi yang kemudian berujung pada nerf di patch berikutnya. Siklus tersebut memang menyenangkan dan menjadi bagian dari daya tarik Dota 2 selama bertahun-tahun.

Namun, menarik bukan berarti selalu dibutuhkan. Dengan kondisi Dota 2 saat ini, penambahan hero baru justru terasa bukan sebagai prioritas paling mendesak. Valve mungkin akan lebih memberikan dampak besar apabila sumber daya pengembangan yang terbatas diarahkan untuk memperbaiki sistem dan hero yang sudah ada.

128 Hero, Tapi Masih Ada yang Terlupakan

Dota 2 saat ini memiliki 128 hero di dalam roster. Menariknya, 110 hero di antaranya bahkan sudah mendapatkan kesempatan bermain di level profesional pada Esports World Cup. Angka tersebut menunjukkan bahwa variasi hero sebenarnya bukan persoalan utama yang sedang dihadapi game ini.

Masalahnya justru terletak pada bagaimana roster tersebut digunakan. Pemain memang menginginkan sesuatu yang segar, baik berupa mekanik baru, dinamika draft yang berbeda, maupun strategi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Akan tetapi, hero baru bukan satu-satunya cara untuk menghadirkan pengalaman tersebut.

Salah satu masalah yang lebih terasa adalah konsentrasi meta pada kelompok hero tertentu. Beberapa karakter terlalu kuat atau terlalu cocok dengan sistem permainan saat ini sehingga terus berputar di draft kompetitif. Akibatnya, meskipun jumlah hero sangat banyak, permainan dapat terasa repetitif sebelum patch besar berikutnya mengubah keseimbangan. Menambahkan hero ke-129 tidak otomatis menjawab pertanyaan mengapa ada hero lain yang sudah bertahun-tahun tidak benar-benar relevan di level kompetitif.

Balance Bisa Lebih Penting daripada Hero Baru

Dari perspektif pengembangan, menciptakan hero baru juga bukan pekerjaan sederhana. Valve harus merancang skill, menguji interaksi dengan 128 hero lainnya, memastikan mekaniknya tidak merusak matchmaking maupun kompetisi profesional, sekaligus membangun identitas visual, audio, dan lore karakter tersebut.

Semua itu membutuhkan waktu dan sumber daya. Pada saat yang sama, Valve juga harus menjaga siklus patch Dota 2, mengelola The International, serta mengembangkan proyek lainnya.

Karena itu, pertanyaannya bukan apakah Valve mampu membuat hero baru. Pertanyaannya adalah apakah hero baru merupakan penggunaan sumber daya yang paling bernilai saat ini? Jika jawabannya tidak, ada banyak area lain yang lebih layak mendapatkan perhatian.

New Player Experience Masih Jadi Tembok Besar

Salah satu masalah yang sering luput dari sorotan adalah pengalaman pemain baru. Dota 2 memang telah melakukan sejumlah perbaikan pada tutorial, tetapi memahami tutorial tidak serta-merta membuat seseorang siap menghadapi pertandingan sebenarnya.

Jarak antara mengetahui dasar permainan dan benar-benar memahami laning, positioning, farming, warding, timing, draft, hingga pengambilan keputusan dalam team fight masih sangat lebar. Bagi pemain baru, kompleksitas tersebut bisa terasa seperti tembok yang sulit ditembus.

Alih-alih menambahkan hero baru, Valve bisa mempertimbangkan sistem mentorship, mode co-op yang lebih terarah, atau progres awal yang membimbing pemain secara bertahap. Fitur seperti ini mungkin tidak se-hype pengumuman hero baru, tetapi dampaknya bisa lebih besar terhadap pertumbuhan dan retensi pemain.

Talent dan Facet Juga Perlu Diperhatikan

Sistem talent dan facet sebenarnya memiliki potensi besar untuk membuat setiap hero terasa lebih dinamis. Namun, seiring waktu, beberapa pilihan justru mulai terasa seperti formalitas karena satu opsi cenderung lebih optimal dibandingkan alternatifnya.

Facet sendiri hadir dengan ambisi untuk memberikan variasi baru terhadap cara memainkan hero. Akan tetapi, sistem tersebut perlahan mengalami perubahan dan pengurangan peran. Talent tree juga menghadapi masalah serupa ketika pilihan yang seharusnya memberikan kebebasan justru dapat mengarah pada satu pilihan yang hampir selalu dianggap benar.

Padahal, sistem seperti facet dan talent menyentuh jauh lebih banyak hero dibandingkan satu karakter baru. Jika Valve berhasil menghidupkan kembali fleksibilitas sistem tersebut, efeknya dapat terasa ke seluruh roster.

Matchmaking Masih Jadi PR Besar

Ada pula masalah yang jauh dari glamor, tetapi sangat menentukan apakah pemain bertahan atau meninggalkan Dota 2: matchmaking.

Bagi pemain dengan MMR rendah, pengalaman bermain dapat dipengaruhi berbagai persoalan seperti kualitas pertandingan, smurf, sistem behavior score, hingga waktu antrean di wilayah tertentu. Semua itu bukan materi yang mudah dijadikan trailer spektakuler, tetapi memiliki dampak langsung terhadap pengalaman bermain.

Pemain mungkin akan bersemangat selama beberapa hari ketika hero baru dirilis. Namun, jika mereka terus mendapatkan pertandingan yang buruk, pengalaman tersebut dapat dengan cepat kehilangan daya tarik. Karena itu, memperbaiki matchmaking, mendeteksi smurf dengan lebih baik, serta membuat sistem perilaku yang lebih efektif bisa menjadi investasi jangka panjang yang jauh lebih penting.

Dota 2 Juga Punya Harta Karun Bernama Lore

Satu hal lain yang menurut saya layak mendapatkan perhatian lebih besar adalah cerita. Dota 2 memiliki lore hero yang sangat kaya, tetapi sebagian besar cerita tersebut masih terasa seperti potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Banyak karakter memiliki latar belakang menarik, hubungan unik, dan konflik yang sebenarnya bisa dikembangkan menjadi cerita yang membuat pemain semakin peduli.

Dark Carnival menjadi contoh menarik mengenai apa yang bisa terjadi ketika Valve benar-benar memberikan ruang bagi storytelling. Event tersebut mampu menghadirkan karakter seperti Ringmaster, Legion Commander, Slark, Bristleback, Axe, dan Hoodwink dalam konteks cerita yang lebih hidup.

Pendekatan seperti ini memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar hero baru. Pemain mendapatkan alasan untuk kembali mengenal karakter yang sudah ada.

Daripada menghadirkan hero baru dengan lore singkat yang kemudian terlupakan setelah patch berikutnya, pengembangan cerita karakter lama bisa membuat dunia Dota 2 terasa lebih hidup.

Hero ke-129 Bisa Menunggu

Ini bukan berarti Dota 2 tidak membutuhkan hero baru selamanya. Justru sebaliknya, hero baru tetap bisa menjadi bagian penting dari masa depan game ketika fondasinya berada dalam kondisi yang lebih siap.

Namun, untuk saat ini, Dota 2 tampaknya memiliki kebutuhan yang lebih mendesak. Balance hero perlu terus diperhatikan, sistem facet dan talent dapat dibuat lebih bermakna, pengalaman pemain baru perlu diperbaiki, matchmaking harus terus disempurnakan, dan lore yang sudah kaya masih memiliki ruang sangat besar untuk dikembangkan.

Hero baru memang menawarkan hype instan. Akan tetapi, memperbaiki sistem yang sudah ada dapat memberikan manfaat yang jauh lebih panjang.

Pada akhirnya, Dota 2 tidak kekurangan konten. Game ini justru memiliki terlalu banyak potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Jadi, daripada buru-buru memperkenalkan hero ke-129, mungkin sekarang adalah waktunya Valve melihat kembali 128 hero yang sudah mereka miliki dan membuat semuanya terasa lebih hidup, relevan, serta menyenangkan untuk dimainkan.

ligagame home of dota2 indonesia 7b308 c7191

Ikuti terus info terbaru seputar Dota2 dan berita esports terlengkap di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian!

LIGAGAME ESPORTS
The First Full-Service Esports Agency in Indonesia

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.


© 2020 PT Lintas Portal Indonesia. All rights reserved.

Follow Ligagame Esports

Update terus dengan berita esports dan gaming terbaru!