Dota 2 Masih Dicintai, TI 2026 Bisa Meriah Tapi Mengapa Banyak Pemain Kini Hanya Menonton?

by Rex "Regum" Rusman

The International 2026 atau TI 2026 segera dimulai. Turnamen terbesar dalam ekosistem Dota 2 kembali menjadi pusat perhatian komunitas esports dunia, terlebih Shanghai, China, kembali menjadi tuan rumah setelah terakhir menggelar TI pada 2019.

Antusiasme terhadap The International tentu masih sangat besar. TI14 di Hamburg mampu mencatat sekitar 1,77 juta peak viewers, sementara TI9 di Shanghai juga menjadi salah satu edisi dengan jumlah penonton tertinggi sepanjang sejarah turnamen. Dukungan komunitas Dota 2 di China pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun, optimisme terhadap TI 2026 tidak otomatis berarti kondisi Dota 2 secara keseluruhan sedang baik-baik saja. Di balik panggung besar The International, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Dota 2 masih memiliki daya tarik yang cukup untuk membuat pemain terus bermain, bukan sekadar menonton?

Angka Pemain Dota 2 Belum Sepenuhnya Menjawab Masalah

Dalam beberapa tahun terakhir, Dota 2 memang terlihat mengalami pemulihan dari sisi jumlah pemain. Rata-rata pemain bulanan yang sebelumnya berada di kisaran 420 ribu hingga 440 ribu pada 2023 meningkat hingga menembus 600 ribu pada awal 2026.

Sekilas, angka tersebut terlihat menjanjikan. Namun, jika melihat lebih dalam, terdapat pola yang patut diperhatikan. Lonjakan jumlah pemain sering kali muncul ketika Dota 2 menghadirkan event besar atau kolaborasi tertentu.

Kolaborasi Monster Hunter pada November 2025, misalnya, membuat jumlah pemain Dota 2 melonjak hingga lebih dari 910 ribu. Sementara itu, periode TI25 juga mendorong angka pemain hingga sekitar 961 ribu.

Artinya, pertumbuhan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa pemain lama benar-benar kembali dan menetap. Banyak pemain datang karena tertarik event atau konten tertentu, kemudian kembali meninggalkan game setelah momentum tersebut berakhir.

Situasi ini berbeda dengan periode 2016 dan 2017 ketika jumlah pemain bulanan Dota 2 secara rutin dapat melewati angka satu juta. Mendatangkan pemain melalui event tentu positif, tetapi mempertahankan mereka tetap aktif merupakan tantangan yang jauh lebih besar.

Dota 2 Makin Sulit Dimainkan Kembali

Ada persoalan lain yang tidak sepenuhnya terlihat melalui statistik pemain dan penonton esports, yakni pengalaman bermain Dota 2 itu sendiri. Banyak mantan pemain masih mengikuti kompetisi profesional, membaca patch notes, menyaksikan The International, bahkan tetap berdiskusi mengenai meta. Namun, mereka tidak lagi memainkan Dota 2 secara rutin.

Salah satu faktornya adalah waktu. Dota 2 bukan game yang mudah dimainkan secara kasual ketika seseorang memiliki jadwal yang semakin padat. Satu pertandingan bisa berlangsung lebih dari 40 menit, sementara game yang berjalan panjang dapat mendekati atau bahkan melewati 90 menit.

Bagi pemain yang masih sekolah atau kuliah, durasi tersebut mungkin tidak selalu menjadi masalah. Namun, bagi generasi pemain yang kini telah memasuki dunia kerja dan memiliki lebih banyak tanggung jawab, satu pertandingan Dota 2 membutuhkan komitmen yang cukup besar.

Masalahnya semakin terasa ketika satu atau dua pertandingan dalam sehari berakhir buruk. Kalah karena permainan yang tidak optimal, rekan setim yang tidak cocok, atau interaksi negatif di dalam game bisa membuat sesi bermain yang sudah terbatas terasa tidak menyenangkan.

Pada akhirnya, terbentuk sebuah kelompok pemain yang unik. Mereka masih mencintai Dota 2, masih peduli terhadap esports-nya, tetapi sudah tidak lagi rutin membuka client.

Esports dan Player Base Mulai Berjalan Terpisah

Kondisi tersebut membuat komunitas Dota 2 seolah terbagi menjadi dua kelompok: pemain aktif dan penonton esports. Keduanya memang masih memiliki hubungan kuat, tetapi aktivitas mereka semakin berbeda. Banyak orang yang sudah berhenti bermain tetap mengikuti turnamen besar, mengetahui perubahan meta, dan menonton pertandingan tim favorit.

The International menjadi salah satu sedikit momen ketika kedua kelompok tersebut kembali berkumpul. Pemain aktif dan mantan pemain sama-sama menonton TI, mengikuti hasil pertandingan, serta membicarakan momen-momen besar yang tercipta.

Dahulu, kondisi seperti ini menjadi fondasi kuat bagi ekosistem Dota 2. Sekarang, The International justru terlihat seperti penopang utama yang menjaga perhatian publik terhadap game tersebut.

BACA JUGA: Jangan Kena Spoiler! Ini Cara Nonton The Internationa Shanghai: Jadwal, Link Stream dan Jam WIB

The International Dulu Dibangun Berbulan-bulan

Salah satu perubahan terbesar dalam perjalanan Dota 2 adalah hilangnya Battle Pass sebagai mesin utama menuju The International. Battle Pass dahulu membuat perjalanan menuju TI terasa seperti sebuah agenda komunitas yang dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Pemain memiliki alasan untuk terus masuk ke game, menyelesaikan berbagai aktivitas, membuka konten, mengejar level, serta melihat hadiah The International terus berkembang. Ketika TI akhirnya dimulai, pemain sudah memiliki keterikatan emosional terhadap turnamen tersebut.

Kini, Compendium memang masih hadir dengan berbagai fitur seperti Fantasy, Prediction, dan Supporter Bundles. Namun, efeknya belum mampu menciptakan momentum komunitas sebesar era Battle Pass.

Base prize pool TI saat ini juga berada di angka sekitar US$1,6 juta. Nominal tersebut mungkin tetap besar bagi banyak orang, tetapi tidak lagi memiliki daya tarik pemberitaan global seperti hadiah The International pada masa lalu. Akibatnya, TI semakin bergantung pada penggemar yang memang sudah mengikuti Dota 2, sementara audiens kasual yang dahulu ikut meramaikan hype semakin sulit dijangkau.

Viewership Kompetitif Dota 2 Juga Memberi Sinyal

Penurunan perhatian terhadap kompetisi Dota 2 juga terlihat di luar The International. Esports World Cup 2026 mencatat peak sekitar 326.802 penonton bersamaan pada grand final antara BoomBoys dan PARIVISION. Angka tersebut turun dibandingkan edisi 2025 yang mencapai 428.296 peak viewers.

Sementara itu, tren historis The International juga memperlihatkan perubahan. TI10 pada 2021 mencatat sekitar 2,74 juta peak viewers, sedangkan TI 2025 berada di kisaran 1,78 juta. Penurunan tersebut bukan sekadar fluktuasi satu turnamen. Ada indikasi bahwa sebagian penonton yang dahulu mengikuti Dota 2 secara musiman mulai menghilang.

Mereka yang tidak mengikuti kompetisi sepanjang tahun sebelumnya tetap akan datang ketika The International terasa seperti sebuah perayaan besar. Namun, ketika build-up menuju TI semakin tipis, alasan bagi penonton kasual untuk kembali ikut menyaksikan juga semakin berkurang.

TI 2026 Bisa Jadi Momentum Kebangkitan

Meski demikian, bukan berarti The International 2026 tidak memiliki peluang untuk kembali menghadirkan hype besar. Kembalinya TI ke Shanghai menjadi salah satu daya tarik utama. Basis penggemar Dota 2 di China memiliki sejarah panjang dan fanatisme yang kuat. Kehadiran tim-tim China di panggung utama juga berpotensi menciptakan atmosfer luar biasa di arena.

Jika Vici Gaming mampu melangkah jauh setelah performa mereka di EWC, misalnya, cerita tersebut dapat semakin memperkuat daya tarik TI 2026 di hadapan penonton lokal.

Namun, satu turnamen yang sukses tidak otomatis menyelesaikan persoalan fundamental Dota 2. The International tetap penting, tetapi Dota 2 membutuhkan lebih dari sekadar satu minggu kompetisi besar untuk kembali menjadi bagian dari rutinitas para pemain. Game MOBA ini membutuhkan alasan yang membuat pemain ingin kembali bermain, mengikuti ekosistem kompetitif, serta merasa menjadi bagian dari perjalanan menuju The International.

Pada akhirnya, masalah Dota 2 bukan sekadar soal kurangnya penonton atau pemain. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat komunitas kembali merasa bahwa Dota 2 bukan hanya sesuatu yang ditonton, tetapi juga sesuatu yang ingin dimainkan! Kuy, login bareng Cygenk leeee....

ligagame home of dota2 indonesia 7b308 c7191

Ikuti terus info terbaru seputar Dota2 dan berita esports terlengkap di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian!

 

 

 

LIGAGAME ESPORTS
The First Full-Service Esports Agency in Indonesia

Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.


© 2020 PT Lintas Portal Indonesia. All rights reserved.

Follow Ligagame Esports

Update terus dengan berita esports dan gaming terbaru!