Turnamen Call of Duty League (CDL) Major I diwarnai kontroversi panas akibat munculnya strategi bertahan ekstrem yang dikenal sebagai “Park The Bus”—atau jika diistilahkan gamer lokal, “ngendok”. Taktik ini ramai dibicarakan karena dinilai sah secara aturan, tetapi dianggap merusak nilai hiburan dalam mode permainan terbaru, Overload.
Strategi tersebut membuat jalannya pertandingan kerap mandek, terutama saat satu tim sudah unggul tipis dan memilih bermain super defensif demi mengamankan kemenangan.

Istilah Park The Bus sebenarnya berasal dari dunia sepak bola. Strategi ini menggambarkan pendekatan ultra-defensif, di mana satu tim “memarkir bus” di area pertahanan sendiri demi menjaga keunggulan skor, bahkan jika itu mengorbankan permainan menyerang.
Di Call of Duty League, konsep ini diterjemahkan ke dalam mode Overload, sebuah mode objektif di mana tim harus mengamankan dan memindahkan perangkat ke zona skor lawan.
Ketika satu tim sudah unggul poin, mereka memilih menahan objektif di area spawn sendiri, menjaga posisi dengan power position terbaik, dan memaksa lawan melakukan perjalanan jauh setiap kali respawn. Hasilnya, tempo permainan melambat drastis.
BACA JUGA: Pojok-Pojok Tempat Ngendok di Map Alpine Free Fire
Mode Overload diperkenalkan untuk menggantikan Control, dengan tujuan membawa tempo lebih cepat, agresif, dan penuh chaos. Awalnya, mode ini disambut positif oleh komunitas karena memberi variasi baru di luar Hardpoint dan Search and Destroy.

Namun di CDL Major I, Overload justru berubah menjadi ajang bertahan pasif setelah tim unggul sedikit. Begitu margin kemenangan terbuka, tim langsung “menginjak rem” dan mengunci permainan.
Strategi ini pertama kali mencuri perhatian saat Miami Heretics menggunakannya melawan Toronto KOI di map Exposure. Dengan menahan objektif di spawn, mereka mengamankan kemenangan dengan cara yang dianggap “cheesy” oleh banyak penonton.
Tak lama berselang, FaZe Vegas meniru pendekatan serupa saat menghadapi LA Thieves, dan kembali meraih kemenangan meski sempat berada dalam situasi berbahaya.

Secara teknis, taktik Park The Bus tidak melanggar aturan. Namun, banyak fans dan pemain profesional menilai bahwa strategi ini menghilangkan esensi kompetitif dan tontonan.
Alih-alih adu mekanik, rotasi, dan pengambilan keputusan cepat, pertandingan berubah menjadi permainan menunggu kesalahan lawan. Bahkan, mode Overload disebut “ternetralisir” hanya karena keunggulan poin yang sangat kecil.
Kontroversi ini sebenarnya bukan hal asing dalam sejarah kompetitif Call of Duty. Pada era Capture the Flag (2012), tim sering bertahan mati-matian di balik headglitch terdalam, membuat skor nyaris mustahil tercipta.
Fenomena serupa juga terjadi di Control Modern Warfare 2, di mana tim rela mengorbankan satu objektif dan bertahan total di choke point, memanfaatkan sistem nyawa untuk menang lewat camping ekstrem.
Artinya, Park The Bus hanyalah evolusi taktik lama yang muncul kembali dalam format baru.
Masalahnya, taktik ini tidak hanya berdampak di ranah profesional. Ranked Play Black Ops 7 dijadwalkan rilis pada 5 Februari, dan komunitas khawatir Park The Bus akan menjadi meta yang merusak pengalaman bermain publik.
Beberapa solusi mulai diusulkan oleh pemain di media sosial, antara lain:
Dari berbagai usulan tersebut, penghentian timer saat device dibawa menjadi ide paling populer.
Sebagai developer yang dikenal kompetitif-first, Treyarch kini berada di bawah sorotan. Jika tidak ada perubahan, Overload berpotensi menjadi mode paling kontroversial di CDL dan Ranked Play.
Banyak fans berharap solusi segera diterapkan sebelum Black Ops 7 Ranked Play resmi berjalan. Jika tidak, Call of Duty League dan ekosistem ranked bisa menghadapi pengalaman kompetitif yang “berbahaya” dan jauh dari kata seru.

Baca selanjutnya:
Semua Info Update Warzone Season 2: Jadwal Rilis, Senjata Baru, Mode Ranked hingga Rebirth Island Winter
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.