Turnamen Apex Legends Global Series (ALGS) Year 5 Championship resmi berakhir di Sapporo, Jepang, dengan hasil mengejutkan. Team Oblivion, tim asal Kanada yang berstatus tanpa organisasi (orgless), sukses keluar sebagai juara dunia setelah melewati laga final penuh drama dengan format Match Point.
Keberhasilan ini langsung menjadi sorotan komunitas esports global. Di tengah dominasi tim-tim besar dengan dukungan organisasi raksasa, Oblivion membuktikan bahwa kerja sama tim, konsistensi, dan mental juara masih menjadi faktor penentu utama.
Profil Trio Juara: Blinkzr, Monsoon, dan FunFPS
Team Oblivion diperkuat oleh tiga pemain berpengalaman:
Ketiganya membentuk roster Oblivion pada September 2025, hanya beberapa bulan sebelum turnamen puncak ALGS Year 5 digelar.
Blinkzr tampil luar biasa sepanjang turnamen dan dinobatkan sebagai MVP ALGS Year 5. Prestasi ini terasa spesial mengingat pada edisi Year 4 lalu ia hanya finis di peringkat 36 besar. Transformasinya menjadi salah satu fragger paling mematikan di turnamen menunjukkan perkembangan pesat baik dari sisi mekanik maupun pengambilan keputusan.
Monsoon dikenal sebagai salah satu veteran Apex Legends Amerika Utara. Kisah hidupnya kerap menginspirasi komunitas, dari masa-masa sulit di awal karier hingga menjadi pemain profesional papan atas. Pengalamannya menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas tim di situasi krusial.
Sementara itu, FunFPS adalah sosok senior yang telah lama berburu gelar juara dunia. Setelah membela beberapa organisasi besar sepanjang kariernya, ALGS Year 5 akhirnya menjadi momen puncak yang selama ini ia kejar.
Langkah Oblivion menuju podium juara tidaklah mudah.
Mereka harus memulai dari Last Chance Qualifier region Amerika pada Oktober 2025 untuk mengamankan tiket LAN Sapporo. Di fase grup, performa mereka terbilang biasa saja dengan finis di peringkat 19 dari 40 tim, nyaris gagal melaju.
Tekanan semakin besar saat Oblivion terlempar ke Lower Bracket Round 2, posisi yang sering kali menjadi “kuburan” bagi banyak tim. Namun, trio Kanada ini mampu bangkit dan mengamankan posisi ketiga untuk merebut tiket ke babak final.
Bagi ketiga pemain, ini bukan kali pertama tampil di Championship, tetapi baru kali inilah mereka benar-benar merasakan manisnya mengangkat trofi.

Babak final menggunakan format Match Point, di mana tim harus mencapai minimal 50 poin terlebih dahulu lalu memenangkan satu game untuk menjadi juara.
Sebanyak 10 tim berhasil mencapai status Match Point Eligible, termasuk Oblivion, Team Falcons, TSM, Fnatic, hingga Ninjas in Pyjamas.
Game kesembilan yang berlangsung di map Storm Point menjadi penentuan segalanya.
Oblivion memilih posisi bertahan di area dekat The Pylon, memanfaatkan kombinasi karakter defensif dengan pagar listrik Wattson untuk mengamankan zona. Satu per satu tim gugur hingga tersisa tiga kandidat juara: Oblivion, Supernova, dan Hotdog Mafia.
Dalam situasi penuh tekanan, Oblivion mengambil keputusan agresif yang tak terduga. Mereka melakukan push serentak dan berhasil memenangi baku tembak terakhir dengan total 13 kill, sekaligus memastikan gelar juara dunia.
Berkat kemenangan ini, Team Oblivion membawa pulang hadiah utama sebesar 600 ribu dolar AS dari total prize pool 2 juta dolar.
Tak hanya itu, mereka juga mencatatkan total 86 poin, tertinggi di antara seluruh peserta turnamen.
Pencapaian ini menjadikan Oblivion sebagai salah satu tim orgless paling sukses dalam sejarah kompetitif Apex Legends.
Salah satu cerita besar lainnya datang dari Team Falcons yang diperkuat bintang legendaris ImperialHal.
Falcons tampil eksplosif di awal final dan menjadi tim pertama yang mencapai Match Point. Namun, status favorit justru membuat mereka menjadi target utama tim-tim lain.
Pada game penentuan, Falcons tersingkir lebih awal setelah ImperialHal tumbang, membuka jalan bagi Oblivion untuk merebut gelar juara.
Falcons akhirnya finis sebagai runner-up dengan 75 poin, disusul ENTER FORCE.36 di posisi ketiga.
Keberhasilan Oblivion menjadi simbol bahwa:
Banyak pengamat menilai kemenangan ini akan mendorong lebih banyak investor dan organisasi untuk melirik roster independen yang berpotensi besar.
Team Oblivion bukan hanya memenangkan turnamen, tetapi juga menciptakan kisah inspiratif di panggung dunia Apex Legends. Dari jalur kualifikasi berat, nyaris tersingkir di lower bracket, hingga menutup final dengan aksi agresif penuh keberanian, perjalanan mereka menjadi salah satu cerita terbaik dalam sejarah ALGS.
ALGS Year 5 pun akan selalu dikenang sebagai edisi ketika tim orgless mengalahkan para raksasa.

Ikuti terus info terbaru seputar Apex Legends di Ligagame! Jangan lupa kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian!
Baca selanjutnya:
Update Apex Legends Januari 2026: Octane, Crypto, dan Newcastle Berubah Drastis
Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untuk mengembangkan industri esports Indonesia.